Profil Anda
Default
1
Nilai

Pertanyaan
1

Jawaban
1

  • Sejatinya produksi kentang secara aeroponik di tanahaair tergolong baru, belum mencapai sewindu. Aplikasi aeroponik yang mengandalkan budidaya tanpa tanah dengan akar menggantung di udara (aero) tersebut lazim dipakai untuk mengembangkan sayuran daun.

    Khusus sayuran umbi seperti kentang, teknologi ini menawarkan banyak keunggulan seperti benih bebas hama dan penyakit serta produksi benih umbi kentang lebih banyak, mencapai 12-14 umbi per tanaman (konvensional dengan media tanam produksi 5-7 umbi per tanaman). Itu artinya, produktivitas kentang secara aeroponik bisa 3 kali lipat.

    Produksi kentang secara aeroponik juga bisa dilakukan di dataran rendah dengan perlakuan khusus pada perakaran. Selama ini produksi kentang memang dilakukan di dataran tinggi yang bersuhu rendah lantaran terkait dengan laju pembentukan umbi. Suhu di area perakaran dipertahankan berkisar 15-18 derajat Celcius. Semakin tinggi suhu berimbas pada penurunan laju fotosintesa serta translokasi asimilat ke umbi, sehingga pembentukan umbi dapat terkendala.

    Pemeliharan kentang aeroponik sejauh ini memerlukan greenhouse. Sebagai gambaran untuk populasinya 2.000 tanaman dan luas rumahakaca sekitar 60 m2 memerlukan dana sekitar Rp55-juta. Itu untuk 2 kali produksi. Dengan produksi 12-14 benih G0 per tanaman dan harga mencapai Rp2.000 per umbi, setidaknya saban panen dapat diperoleh pendapatan di atas Rp30-juta.

    Kentang G0 memiliki pasar luas karena pekebun memerlukan benih kentang berkualitas. Fakta di lapangan memperlihatkan pekebun sulit memperoleh benih berkualitas yang berdampak pada volume produksi. Benih kualitas rendah hanya mampu memproduksi rata-rata 15-17 ton/ha dari kondisi ideal 25-30 ton/ha. Maka dari itu angka impor benih kentang relatif tinggi. Saban tahun setidaknya 300.000 ton bibit perlu diimpor dari berbagai negara seperti Jerman dan Australia.

    • 1422 views
    • 1 answers
    • 0 votes