Profil Anda
Editor
715
Nilai

Pertanyaan
9

Jawaban
157

  • Kompos yang merupakan hasil fermentasi bahan organik dapat berfungsi sebagai pembenah tanah sehingga bisa mengembalikan kesuburan dan produktivitas lahan. Hasil pengomposan di tanah seperti asam humat dan asam fulfat dapat memacu pertumbuhan tanaman, bahkan mengurangi pemakaian pupuk kimia.

    Untuk mempermudah penyerapan kompos oleh tanaman memang perlu penambahan mikrob. Mikrob yang ditambahkan berbeda-beda tergantung keperluan seperti yang bersifat pelarut fosfat, penghalau penyakit, dan penambat nitrogen. Sebagai contoh Riset Prof Wahono Hadi Susanto, dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang membuktikan kombinasi kompos dan mikrob itu manjur meningkatkan produksi tanaman.

    Wahono memakai kompos dari blotong alias limbah tebu yang dicampurkan bakteri Thiobacillus sp. Hasilnya, produksi tebu meningkat dua kali lipat dari semula 80 ton/ha. Fungsi mikrob yang dipakai pada penanganan limbah pertambangan itu, mengoptimalkan desulfurisasi atau penguraian mineral sulfur asal limbah tebu sehingga tanaman tebu tersebut mampu menyerap hara lebih baik.

    • 2125 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Pembenahan tanah sehabis panen perlu dilakukan agar tanah tetap sehat. Hal itu penting karena tanah yang sudah ditanami akan kekurangan unsur hara. Makanya jika tidak dibenahi, kemampuannya untuk berproduksi menjadi rendah.

    Pembenahan tanah tak hanya memperbaiki kondisi secara fisik, tapi juga kimia dan biologi. Yang disebut terakhir antara lain meningkatkan kadar oksigen terlarut air untuk menyiram, menjaga keseimbangan pH tanah, mengikat logam berat yang bersifat racun bagi tanaman seperti timbal (Pb) dan kadmium (Cd), serta mengikat kation dari unsur di pupuk misalnya, ammonium (NH4+) dari Urea dan kalium K+ dari KCl, sehingga penyerapan pupuk lebih efisien.

    Di pasar terdapat pembenah tanah yang bersifat sintesis dan alami. Zeolit, salah satu pembenah tanah alami yang sering digunakan. Batuan berwarna abu-abu sampai kebiru-biruan itu memiliki karakter melepas air tinggi. Zeolit juga mengandung lebih dari 30 mineral alami, seperti natrolit, thomsonit, analit, hendalit, clinoptilotit, dan mordernit. Dengan pemberian zeolit, unsur hara tanaman tercukupi dan produktivitas terjaga.

    Sebagai gambaran, pemakaian zeolit sebanyak 10 ton/ha pada tanaman jagung pipilan menghasilkan panen 4,56 ton/ha, sedangkan pemakaian 5 ton zeolit menghasilkan 4,26 ton/ha. Tanpa zeolit sama sekali, volume panen hanya 3,45 ton/ha.

    Meski demikian pemakaian zeolit tidak boleh dilakukan pada tanah masam karena zeolit bakal melepaskan asam organik yang menurunkan pH tanah sehingga tanah menjadi lebih masam. Tanah terlalu masam kesuburannya rendah. Untuk membenahi tanah masam sebaiknya mengunakan gipsum. Gipsum mampu meningkatkan kadar kalsium di tanah miskin hara dan agregasi struktur, tapi tidak meningkatkan pH tanah.

    • 2233 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Pestisida nabati dapat digunakan dalam budidaya kentang. Pestisida nabati untuk kentang dapat dibuat menggunakan tanaman ki pahit Anastrophus compressus. Untuk menghalau hama bisa juga dilakukan tumpangsari kentang dan seledri Apium graveolens. Salah satu momok bagi pekebun kentang adalah penyakit hawar daun atau lodoh akibat Phytophthora infestans.

    Penyakit itu dapat dicegah dengan memanfaatkan cendawan Trichoderma sp dan Pseudomonas fluoresen sebagai agen antagonis. Cendawan memang kurang efektif dibandingkan pestisida kimia. Namun keunggulannya, pemakaian cendawan itu adalah tidak menimbulkan resistensi terhadap Phytophthora.

    • 2641 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Jerami padi dapat dibuat menjadi bioetanol karena memiliki 39% selulosa dan 27,5% hemiselulosa. Caranya, cacah jerami padi kemudian direndam dalam larutan kapur 0,5% selama 2 minggu. Selanjutnya hidrolisis memakai asam sulfat konsentrasi 1-5% pada suhu 180 derajat Celcius. Setelah itu prosesnya seperti fermentasi bioetanol pada umumnya yang memakai mikrob Saccharomyces cereviceae. Hidrolisat selanjutnya difermentasi selama 16-24 jam.

    • 2505 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Banyak kelebihan dari penerapan padi System of Rice Intensification (SRI) seperti pengurangan pemakaian pupuk Urea hingga 0%. Padi System of Rice Intensification juga mampu hemat benih karena hanya menghabiskan 4-5 kg benih per hektar, sedangkan sistem konvensional 40 kg benih per hektar.

    Padi System of Rice Intensification juga relatif resisten terhadap serangan hama dan penyakit sehingga akan mengurangi pemakaian pestisida. Keunggulan lainnya adalah penghematan pemakaian air hingga 45%. Pada sistem konvensional, kebutuhan air mencapai 15.000 m3 per hektar. Meski terjadi penghematan, tapi produksi padi System of Rice Intensification malah meningkat hingga 4,6 ton/hektar.

    Padi System of Rice Intensification diaplikasi dengan memakai tanah yang macak-macak. Kondisi tanah macak-macak itu ternyata mampu menekan produksi gas metan hingga 50%. Riset Fitri Ardi dari Jurusan Tanah Institut Pertanian Bogor (IPB) membuktikan pada 14 hari setelah tanam, padi sistem konvensional menghasilkan 0,35 mg gas metan/m2/jam. Setelah aplikasi padi System of Rice Intensification, kadar gas metan menjadi minus 0,1 mg/m2/jam.

    Pembentukan gas metan sejatinya berkaitan dengan perombakan bahan organik di tanah. Di lahan sawah yang macak-macak, ketersediaan oksigen sangat memadai. Lokasi semacam itu tentu tak disukai kelompok bakteri Metanogen sp yang bersifat anaerob alias tak perlu oksigen. Metanogen justru tak mampu hidup di tanah macak-macak. Metanogen itulah yang merombak bahan organik menjadi gas metan. Sebab padi System of Rice Intensification mensyaratkan tanah tak tergenang, otomatis bakteri Metanogen sp sulit berkembang.

    Efek positif lain penerapan padi System of Rice Intensification adalah populasi beragam mikroba seperti azotobacter dan azospirillium sangat melimpah. Mikrob tersebut akan penambatkan nitrogen dari atmosfer sehingga pemupukan nitrogen pun berkurang. Populasi cacing juga melonjak pesat sehingga memperbaiki sifat fisik tanah. Keberadaan cacing membuat tanah berongga sehingga oksigen leluasa masuk.

    • 2051 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Hasil riset Choon-Sheen Lai dari Universitas Sains Malaysia memperlihatkan keladi tikus Typhonium flagelliforme mampu menghambat pertumbuhan sel kanker dan menginduksi apoptosis atau program bunuh diri sel kanker. Menurut Choon nilai IC50–konsentrasi yang menyebabkan kematian 50% populasi sel uji-ekstrak heksan dan diklorometana (DCM) keladi tikus adalah 53,89 μg/ml.

    Hasil itu diperkuat riset Peni Indrayudha dari Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jawa Tengah. Peni membuktikan keladi tikus mengandung Ribosom Inactivating Proteins RIPs yang menghambat sintesis protein pada sel kanker sehingga perkembangannya terkunci.

    Meski demikian beberapa pengalaman pengguna memperlihatkan konsumsi rebusan air keladi tikus menyebabkan gatal di mulut dan tenggorokan. Rasa gatal itu muncul karena keladi tikus mengandung senyawa aktif yang memicu produksi histamin dalam tubuh.

    Histamin merupakan senyawa penyebab gatal, nyeri, dan alergi yang dilepas oleh sistem imun tubuh sebagai respon terhadap benda asing yang masuk ke tubuh. Untuk mengatasi histamin pada keladi tikus dapat dilakukan dengan mengonsumsi herbal bersifat antihistamin seperti biji adas dan daun sembung. Cara lain dengan mengonsumsi madu yang juga berefek antihistamin.

    • 2515 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Indonesia tercatat memiliki sekitar 46 jenis kerapu. Seluruh ikan anggota keluarga Serranidae itu kaya kandungan protein yang diperlukan tubuh seperti Eicosapentaenoat Acid (EPA) dan Deicosahencanoic Acid (DHA). Menurut Prof Dr Asikin Djamali, pemerhati sumberdaya ikan dan lingkungan laut, dari sejumlah kerapu itu hanya beberapa jenis yang layak dibudidaya karena memiliki nilai ekonomis tinggi seperti kerapu tikus atau bebek, kerapu macan, dan kerapu lumpur. Selain ketiga jenis itu masih terdapat kerapu lain yang potensial dibudidayakan.

    1. Kerapu Kertang
    Kerapu kertang Epinephelus lanceolatus yang dewasa mampu mencapai panjang tubuh 3 m itu memiliki beberapa kelebihan seperti adaptif dan lebih tahan penyakit. Giant grouper-sebutan kertang di Inggris-memiliki rentang hidup di salinitas 5-33 ppt, kerapu lain 31-34 ppt. Laju pertumbuhan kertang tergolong cepat, untuk mencapai ukuran 5-7 cm misalnya, butuh waktu 25-35 hari. Di Indonesia kerapu kertang tersebar di perairan di Padang, Bengkulu, Kepulauan Seribu, Karimunjawa, Bawean, Flores, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.

    2. Kerapu Sunu
    Kerapu sunu Plectropomus leopardus yang memiliki corak merah atau cokelat kehijauan totol biru itu dapat mencapai panjang tubuh 1,2 m. Di bandingkan kerapu kertang, harga kerapu sunu lebih mahal mencapai Rp300.000/kg. Kerapu sunu yang dapat mencapai bobot 9 kg/ekor itu tersebar di perairan di Padang, Bengkulu, Teluk Banten, Kepulauan Seribu, Karimunjawa, Bawean, Sulawesi Utara, Kepulauan Sangir, Ternate, Bacan, Ambon, Banda, Kepulauan Kei, dan Flores.

    3. Kerapu Lodi
    Kerapu lodi Plectropomus maculatus memiliki sosok fisik mirip kerapu sunu, tetapi totol biru lebih jarang. Kerapu lodi mampu mencapai panjang tubuh 70 cm dengan bobot 6 kg/ekor. Harga kerapu lodi sama seperti kerapu sunu. Kerapu lodi tersebar di perairan di Padang, Nias, Sibolga, Kepulauan Seribu, Karimunjawa, Sulawesi Selatan, Teluk Banten, Halmahera, dan Ternate.

    4. Kerapu Malabar
    Kerapu malabar Epinephelus malabaricus memiliki sosok seperti kerapu lumpur Epinephelus coioides. Tubuhnya memanjang dan gilik dengan warna dasar abu-abu muda dan bintik-bintik di tubuh. Bedanya, bintik malabar hitam dan ukurannya lebih kecil. Kerapu malabar yang dapat mencapai panjang 1,1 m dengan bobot 25 kg/ekor itu tersebar di perairan karang, muara, mangrove, dan perairan berlumpur di Kepulauan Seribu, Karimunjawa, Bawean, Padang, Bengkulu, Nias, Aceh, dan Sumatera Utara.

    5. Kerapu Batu
    Kerapu batu Cephalopholis boenack hidup di sela-sela karang mati hingga kedalaman 30 m. Tubuhnya berwarna dasar cokelat dengan pita-pita vertikal hitam pucat. Kerapu batu berukuran tubuh relatif kecil, sekitar 22 cm. Di Indonesia, kerapu batu tersebar di perairan di pantai barat Sumatera, Bangka, Belitung, Kalimantan Timur, Kepulauan Seribu, Karimunjawa, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Pulau Buru, dan Ambon.

    • 2088 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Secara alami salak matang hanya tahan simpan 7-8 hari dalam suhu ruang. Namun untuk memperpanjang masa simpan dapat dilakukan dengan merendam buah salak dalam larutan mengandung 6% lilin. Lilin menyumbat pori-pori kulit sehingga laju respirasi buah terhambat. Dengan teknik pelilinan itu umur simpan buah salak menjadi lebih lama, mencapai 14-16 hari.

    • 10809 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Pekebun biasanya memperpanjang durasi sterilisasi karena beranggapan bahwa semakin lama waktu sterilisasi, kian bagus kualitas baglog. Harapannya cendawan kontaminan tak mampu menembus baglog. Namun, faktanya kondisi itu tidak memberi pengaruh positif terhadap kehadiran cendawan kontaminan.

    Pengalaman seorang pekebun jamur tiram justru memperlihatkan sterilisasi baglog hanya selama 30 menit merupakan keputusan tepat. Keputusan itu diambil setelah ia melakukan percobaan sederhana. Pekebun itu menyediakan masing-masing 10 baglog hasil sterilisasi, pasteurisasi, dan tanpa sterilisasi. Selanjutnya ia menumbuhkan bibit jamur tiram di masing-masing baglog itu. Hasilnya? Baglog pertama yang terkena kontaminasi adalah baglog yang telah dipasteurisasi 12 jam, kedua baglog sterilisasi, dan terakhir baglog tanpa sterilisasi.

    Baglog tanpa sterilisasi memang perlu lebih banyak bibit, 10% dari bobot baglog. Bila bobot baglog rata-rata 1,2 kg, artinya perlu 120 gram bibit untuk sebuah baglog. Bandingkan dengan baglog sterilisasi (30 menit) hanya memerlukan bibit seujung spatula atau hanya beberapa gram.

    Pekebun lazimnya melakukan teknik sterilisasi pada suhu 120 derajat Celcius dan tekanan 1 bar selama 10 jam. Selain sterilisasi, pekebun perlu pula melakukan pasteurisasi untuk mensucihamakan baglog. Beda sterilisasi dan pasteurisasi terletak pada suhu pemanasan dan alat.

    Sterilisasi mensucihamakan baglog pada suhu minimal 120 derajat Celcius dengan alat vakum bertekanan sehingga perlu boiler sebagai sumber uap air panas. Pada pasteurisasi pemanasan maksimal 70 derajat Celcius dengan alat sederhana seperti drum minyak sebagai wadah baglog. Lama mempasteurisasi 12 jam dengan tingkat kehadiran kontaminan maksimal 20%.

    • 5206 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Proses pembuatan bioetanol dari limbah kelapa sawit tidak sulit seperti riset yang dilakukan oleh Dr Ronny Purwadi dari Departemen Teknologi Kimia Institut Teknologi Bandung. Tandan kosong kelapa sawit terlebih dahulu dicacah. Selanjutnya cacahan itu diberi larutan asam sulfat encer berkonsentrasi 1-3% sebagai bagian dari tahap hidrolisis yang terdiri atas pemisahan lignin dan pemisahan lignoselulosa untuk menghasilkan gula.

    Untuk memecah lignin, cacahan tandan kelapa sawit itu dipanaskan pada suhu 120-170 derajat Celcius dengan tekanan 4 bar. Prosesnya berlangsung 0,5-1 jam menggunakan perebus otoklaf. Setelah selesai, hidrolisis berpindah ke otoklaf lainnya untuk proses hidrolisis kedua memakai suhu 240 derajat Celcius selama 45 menit. Hasil hidrolisis itu berupa hidrolisat gula terpisah dari kotoran.

    Proses selanjutnya mirip fermentasi bioetanol lain, menggunakan mikroba Saccharomyces cereviceae. Fermentasi dalam fermentor pada pH 5 dan suhu 30 derajat Celcius selama 16-24 jam. Pengadukan dan pemanasan harus kontinu agar suhu dan pH stabil. Rendemen yang diperoleh sekitar 12%, sehingga dari 1 ton limbah kelapa sawit menghasilkan 120 liter bioetanol.

    • 1845 views
    • 1 answers
    • 0 votes